7 Game dengan Hype Besar Tapi Malah Gagal di Pasaran
Satu-satunya kepastian yg terdapat di hidup ini merupakan bahwa nir ada hal yg pasti. Mau itu percintaan atau karir kalian, nggak bakalan mampu ditebak, geng!
Sebelumnya, Jaka sudah pernah membahas beberapa game yang kesuksesannya tidak disangka yang merupakan keliru satu model dari pepatah ini.
Sayangnya, kebalikannya juga bisa terjadi pada mana sudah banyak game yg dibutuhkan akan sukses malah gagal pada pasaran.
DAFTAR ISI
- Game Dengan Hype Besar yg Gagal pada Pasaran
- SimCity (2013)
- Mass Effect: Andromeda (2017)
- Anthem (2018)
- Evolve (2015)
- Fallout 76 (2018)
- Artifact (2018)
- No Man's Sky (2016)
7 Game Dengan Hype Besar yg Gagal di Pasaran
Di dalam global usaha, video game itu sebuah produk & layaknya sebuah produk, tentu mereka mempunyai strategi pemasaran sendiri.
Sebelum video game tadi dirilis, tentunya developer & penerbit dari video game itu sendiri harus membangun hype buat membantu penjualan game tersebut.
Sayangnya, nggak jarang kita menemui perkara di mana kualitas berdasarkan game yang bersangkutan nggak bisa mengimbangi hype menurut game itu sendiri, geng!
Nah, di sini Jaka mau membahas 7 game menggunakan hype akbar yang gagal di pasaran. Konsumen jaman kini sudah nggak bisa diremehkan loh!
1. SimCity (2013)

Setelah sempat pindah jalur menggunakan spin-off SimCity Societies di tahun 2007, seri SimCity dibangkitkan balik oleh Electronic Arts (EA) melalui game SimCity (2013).
Sebelum rilis, pihak EA telah menyatakan jika game menciptakan kota ini tetap akan mempunyai kedalaman gameplay SimCity 4 yang banyak dipuji saat dirilis di tahun 2003.
Sayangnya, SimCity (2013) hanya sanggup dimainkan secara online dan EA melakukan kesalahan fatal di mana mereka nir menyiapkan server yang cukup.
Walhasil, banyak pemain yg mengeluh karena mereka nir mampu terhubung ke server yg menciptakan game ini menerima kecaman berat dari publik & kritik.
dua. Mass Effect: Andromeda (2017)
Seri science-fiction RPG Mass Effect berdasarkan BioWare ini dipercaya menjadi galat satu seri RPG terbaik & sequel Mass Effect: Andromeda telah sangat ditunggu.
Sayangnya, lantaran tim primer BioWare Edmonton saat itu sedang sibuk dengan Anthem, EA sebagai pemilik BioWare melimpahkan pengembangan game ini ke tim baru BioWare Montreal.
Selain itu, banyak staf senior berdasarkan BioWare yg minggat selama pembuatan Mass Effect: Andromeda yang tentunya sangat nggak membantu, geng.
Akhirnya, game ini mendapat respons pedas lantaran banyaknya masalah teknis misalnya glitch & animasi karakter yang sangat jelek.
tiga. Anthem (2018)

Satu lagi game EA yang kena kasus adalah Anthem yang sudah sempat Jaka sebutkan di atas menjadi proyek yg dikembangkan sang tim utama BioWare.
Sebelum dirilis, Anthem dijanjikan menjadi sebuah game RPG menggunakan elemen co-op yg sanggup menyaingi Destiny ditambah elemen terbang yg sangat unik.
Di sini, pemain akan memakai sebuah mech suit seperti Iron Man yg bisa dipakai buat bertarung & mempunyai kemampuan terbang sementara.
Sayangnya, BioWare terlalu ambisius & game ini menerima kritik pedas lantaran nggak mempunyai cerita berkualitas spesial BioWare dan variasi konten yg sangat minim.
4. Evolve (2015)

Terkadang, wangsit cemerlang saja nggak cukup buat menciptakan produk berkualitas lantaran pelaksanaannya jua krusial. Seperti yg dibuktikan sang game Evolve menurut Turtle Rock Studios, geng.
Game ini mengusung gameplay multiplayer yg unik pada mana 1 pemain akan berperan menjadi monster akbar yang bertenaga dan 4 orang lain akan berperan menjadi insan yg memburu monster tersebut.
Meskipun poly menerima pujian atas gameplay yg unik, game ini dihujat pemain karena dirilis berbarengan menggunakan banyak konten tambahan yang harganya lumayan nggak lumrah.
Turtle Rock mencoba memperbaiki situasi ini dengan menciptakan Evolve sebagai free-to-play pada 2016 sayangnya nasi telah menjadi bubur dan server game ini akhirnya ditutup di tahun 2018.
lima. Fallout 76 (2018)

Bethesda pada 2 dasa warsa terakhir telah terkenal dengan seri open world RPG Elder Scrolls & Fallout yang mengizinkan pemain buat asik sendirian pada global buatan mereka.
Makanya, gamer pada semua global langsung heboh ketika Bethesda mengumumkan bahwa spin-off Fallout 76 akan memiliki fokus di multiplayer, geng.
Sayangnya, realita menyampaikan beda & Fallout 76 menerima kecaman akbar karena mempunyai konten yang sangat minim, ketiadaan NPC, dan dipenuhi menggunakan banyak sekali bug dan masalah teknis lainnya.
Bethesda setidaknya telah mengakui kesalahan mereka dan hingga waktu ini, mereka telah meluncurkan beberapa update yg menciptakan game ini jadi nggak sesampah waktu dirilis pertama kali.
6. Artifact (2018)
Di mata gamer, Valve selaku perusahaan di belakang game Dota dua & distributor game digital Steam sering dianggap tanpa cela.
Tapi reputasi itu terbukti keliru setelah mereka merilis Artifact, sebuah game permainan kartu yg dibentuk buat menyaingi Hearthstone milik Blizzard.
Untuk membuat Artifact, Valve bekerja sama menggunakan desainer game kartu terkenal Magic: The Gathering, Richard Garfield yang menciptakan game ini sangat ditunggu, geng.
Sayangnya, game ini dikecam karena tidak free-to-play seperti Hearthstone & dipercaya pay-to-win pada mana pemain wajib rela mengeluarkan uang poly buat membeli kartu yang kuat.
7. No Man's Sky (2016)

Kalau membicarakan game yg sebagai korban hype, nggak mungkin bisa lepas berdasarkan game No Man's Sky menurut developer Hello Games.
Sebelum dirilis, game ini dijanjikan menjadi game eksplorasi luar angkasa yg mengizinkan pemain buat menjelajahi sebuah galaksi yg besar sinkron asa mereka.
Sayangnya, apa yg sanggup ditemukan pada game ini sangat nir sesuai menggunakan ekspektasi pemain & game ini seringkali dijadikan contoh masalah pemasaran palsu pada dunia video game.
Tapi developer Hello Games permanen giat dalam memperbaiki kesalahan mereka & sesudah melalui beberapa update besar , Jaka eksklusif menduga jikalau No Man's Sky telah sebagai game yang patut dimainkan.
Akhir Kata
Itulah, geng, daftar 7 game menggunakan hype akbar yg gagal pada pasaran. Sudah seperti politisi yang kerjaannya cuma mengumbar janji hampa, banyak gamer yg sebagai korban karena game di atas.
Makanya, Jaka sendiri sekarang telah hampir nggak pernah membeli game ketika baru rilis meskipun sebenarnya lebih lantaran Jaka nunggu bonus atau cashback, sih. Maklum, Jaka soalnya bukan sultan.
Apa kalian pernah sebagai korban hype game di atas? Atau kalian punya model masalah game lainnya? Share pada kolom komentar ya!
Comments
Post a Comment